Selasa, 20 Maret 2012

MENGAMALKAN TAUHID DENGAN SEBENARBENARNYA DAPAT MENYEBABKAN MASUK SURGA TANPA HISAB

 Firman Allah I :
“Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam yang
dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada Allah dan
hanif (berpegang teguh pada kebenaran), dan sekalikali
ia bukanlah termasuk orang-orang yang
mempersekutukan (Tuhan).” (QS. An Nahl: 120).“Dan orang-orang yang tidak mempersekutukan
dengan Rabb mereka (sesuatu apapun)”. (QS. Al
Mu’minun: 59).
Husain bin Abdurrahman berkata: “Suatu ketika
aku berada di sisi Sa'id bin Zubair, lalu ia bertanya:
“siapa di antara kalian melihat bintang yang jatuh
semalam? kemudian aku menjawab: “aku”, kemudian
kataku: “ketahuilah, sesungguhnya aku ketika itu
tidak sedang melaksanakan shalat, karena aku
disengat kalajengking”, lalu ia bertanya kepadaku:
“lalu apa yang kau lakukan? aku menjawab: “aku
minta diruqyah (10)”, ia bertanya lagi: “apa yang
(10) Ruqyah, maksudnya di sini, ialah: penyembuhan dengan bacaan ayat ayat
Al qur’an atau doa doa.
Kitab Tauhid 28
mendorong kamu melakukan hal itu? aku menjawab:
“yaitu: sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Asy
Sya’by kepada kami”, ia bertanya lagi: “dan apakah
hadits yang dituturkan kepadamu itu? aku
menjawab: “dia menuturkan hadits kepada kami dari
Buraidah bin Hushaib:
“Tidak boleh Ruqyah kecuali karena ain (11) atau
terkena sengatan”.
Sa'id pun berkata: “sungguh telah berbuat baik
orang yang telah mengamalkan apa yang telah
didengarnya, tetapi Ibnu Abbas menuturkan hadits
kepada kami dari Rasulullah r, beliau bersabda:
(11) Ain, yaitu: pengaruh jahat yang disebabkan oleh rasa dengki seseorang,
melalui pandangan matanya. Disebut juga penyakit mata.
Kitab Tauhid 29
“Telah diperlihatkan kepadaku beberapa umat, lalu
aku melihat seorang Nabi, bersamanya sekelompok
orang, dan seorang Nabi, bersamanya satu dan dua
orang saja, dan Nabi yang lain lagi tanpa ada
seorangpun yang menyertainya, tiba-tiba diperlihatkan
kepadaku sekelompok orang yang banyak jumlahnya,
aku mengira bahwa mereka itu umatku, tetapi
dikatakan kepadaku: bahwa mereka itu adalah Musa
dan kaumnya, tiba-tiba aku melihat lagi sekelompok
orang yang lain yang jumlahnya sangat besar, maka
dikatakan kepadaku: mereka itu adalah umatmu, dan
bersama mereka ada 70.000 (tujuh puluh ribu) orang
yang masuk surga tanpa hisab dan tanpa disiksa
lebih dahulu." kemudian beliau bangkit dan masuk ke
dalam rumahnya, maka orang- orang pun
memperbincangkan tentang siapakah mereka itu?
Ada di antara mereka yang berkata: "barangkali
mereka itu orang-orang yang telah menyertai Nabi
dalam hidupnya, dan ada lagi yang berkata:
"barangkali mereka itu orang-orang yang dilakhirkan
dalam lingkungan Islam hingga tidak pernah
menyekutukan Allah dengan sesuatupun, dan yang
lainnya menyebutkan yang lain pula.
Kemudian Rasulullah r keluar dan merekapun
memberitahukan hal tersebut kepada beliau. Maka
beliau bersabda: “Mereka itu adalah orang-orang yang
tidak pernah minta ruqyah, tidak melakukan
Kitab Tauhid 30
tathayyur (12) dan tidak pernah meminta lukanya
ditempeli besi yang dipanaskan, dan mereka pun
bertawakkal kepada tuhan mereka." kemudian
Ukasyah bin Muhshan berdiri dan berkata:
mohonkanlah kepada Allah agar aku termasuk
golongan mereka, kemudian Rasul bersabda: “ya,
engkau termasuk golongan mereka”, kemudian
seseorang yang lain berdiri juga dan berkata:
mohonkanlah kepada Allah agar aku juga termasuk
golongan mereka, Rasul menjawab: “Kamu sudah
kedahuluan Ukasyah.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Kandungan bab ini:
1. Mengetahui adanya tingkatan-tingkatan
manusia dalam bertauhid.
2. Pengertian mengamalkan tauhid dengan
semurni-murninya.
3. Pujian Allah kepada Nabi Ibrahim, karena
beliau tidak pernah melakukan kemusyrikan.
4. Pujian Allah kepada tokoh para wali Allah (para
shahabat Rasulullah) karena bersihnya diri
mereka dari kemusyrikan.
5. Tidak meminta ruqyah, tidak meminta supaya
lukanya ditempeli dengan besi yang panas, dan
tidak melakukan tathayyur adalah termasuk
pengamalan tauhid yang murni.
6. Tawakkal kepada Allah adalah sifat yang
mendasari sikap tersebut.
(12) Tathayyur ialah: merasa pesimis, merasa bernasib sial, atau meramal nasib
buruk karena melihat burung, binatang lainnya atau apa saja.
Kitab Tauhid 31
7. Dalamnya ilmu para sahabat, karena mereka
mengetahui bahwa orang-orang yang
dinyatakan dalam hadits tersebut tidak akan
mendapatkan kedudukan yang demikian tinggi
kecuali dengan adanya pengamalan.
8. Semangatnya para sahabat untuk berlombalomba
dalam mengerjakan amal kebaikan.
9. Keistimewaan umat Islam dalam kwantitas dan
kwalitasnya.
10. Keutamaan para pengikut Nabi Musa.
11. Umat-umat terdahulu telah ditampakkan
kepada Nabi Muhammad r.
12. Setiap umat dikumpulkan sendiri-sendiri
bersama para Nabinya.
13. Sedikitnya orang-orang yang mengikuti
ajakan para Nabi.
14. Nabi yang tidak mempunyai pengikut
akan datang sendirian pada hari kiamat.
15. Manfaat dari pengetahuan ini adalah
tidak silau dengan jumlah yang banyak dan
tidak kecil hati dengan jumlah yang sedikit.
16. Diperbolehkan melakukan ruqyah
disebabkan terkena ain dan sengatan.
17. Luasnya ilmu para ulama salaf, hal itu
bisa diketahui dari ucapan Sa'id bin Zubair:
“Sungguh telah berbuat baik orang yang
mengamalkan apa yang telah didengarnya,
tetapi…”, dengan demikian jelaslah bahwa
hadits yang pertama tidak bertentangan dengan
hadits yang kedua.
Kitab Tauhid 32
18. Kemuliaan sifat para ulama salaf, karena
ketulusan hati mereka, dan mereka tidak
memuji seseorang dengan pujian yang dibuatbuat.
19. Sabda Nabi: “Engkau termasuk golongan
mereka” adalah salah satu dari tanda-tanda
kenabian Beliau.
20. Keutamaan Ukasyah.
21. Penggunaan kata sindiran (13).
22. Kemuliaan akhlak Nabi Muhammad r.
(13) Karena beliau bersabda kepada seseorang: “Kamu sudah kedahuluan
Ukasyah”, dan tidak bersabda kepadanya: “Kamu tidak pantas untuk
dimasukkan ke dalam golongan mereka”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar